Rabu, 27 Februari 2013

MUSEUM SENI RUPA DAN KERAMIK

Berpetualang di Museum, part 5


Museum Seni Rupa dan Keramik

Siapa yang sudah pernah pergi ke Museum Seni Rupa dan Keramik Jakarta? Apa pendapat kalian? Menarik kah? Well, bagi pecinta seni, berkunjung ke Museum Seni Rupa dan Keramik yang terletak di Jalan Pos Kota No.2, Jakarta Barat ini bisa memberikan banyak inspirasi. Dengan berbekal tiket seharga Rp.2.000,- untuk dewasa, Rp. 1.000,- untuk mahasiswa, dan Rp.600,- untuk anak-anak, kita bisa berkeliling museum yang lapang ini sambil menikmati berbagai benda-benda seni seperti lukisan, keramik berbagai bentuk, ukiran kayu, patung, dan lain sebagainya.

Manik-manik Keramik
Seperti saat kita memasuki istana peninggalan Belanda di Kebun Raya Bogor, sensasi yang sama juga bisa kita rasakan ketika menapakan kaki di gedung tersebut. Dari penampakan luar gedungnya, terdapat 8 tiang besar tinggi menjulang khas Yunani dari pertengahan abad ke-5 SM, dirancang oleh Jhr. W H.F.H. Raders, seorang arsitek yang tergabung dalam Koninklijk Instituut van Ingenieurs (Institut Insinyur). Lanjut melangkah, kita akan disambut dengan patung Bapak S. Sudjojono sebagai The Father of Indonesian Painting, yang lukisannya juga ada di sayap kanan museum Fatahillah, big size pula! :D

Monumen Balai Seni
Setelah itu di depan juga ada monumen Balai Seni Rupa yang bertuliskan bahwa gedung ini dibangun sebagai lembaga Peradilan Belanda (Kantor Dewan Kehakiman pada Benteng Batavia) atau Ordinaris Raad Van Justitie Binnen Het Kasteel Batavia pada tanggal 21 Januari 1870. Dewan Kehakiman itu sendiri didirikan pada tahun 1620 dan berkantor di gedung Stadhuis (kini Museum Fatahillah). Tugas dewan ini adalah menyelesaikan masalah hukuman yang telah diputuskan oleh Collegie van Schepenen (Dewan Pemulihan Keamanan). Apabila hukuman ini dirasakan melampaui batas, terdakwa boleh mengajukan keberatannya kepada Dewan Kehakiman. 

Tangga menuju lantai 2
Sekitar tahun 1944, yaitu pada masa pendudukan Jepang dan perjuangan kemedekaan Indonesia, gedung ini dimanfaatkan oleh tentara KNIL dan selanjutnya dipergunakan sebagai asrama militer TNI. Kemudian pada tahun 1967 menjadi kantor Walikota Jakarta Barat, dan setelah itu barulah dipergunakan sebagai kantor Dinas Museum dan Sejarah DKI Jakarta sampai tahun 1975 yang diresmikan oleh Presiden Soeharto sebagai Gedung Balai Seni Rupa Jakarta satu tahun setelahnya. Sebagai tambahan, pada tahun 1950-1962, daerah ini dijadikan daerah tertutup (Ring Bewaking) antara pukul 18.00-06.00 WIB untuk umum karena di lokasi tersebut tersimpan peralatan tentara yang sangat vital, meliputi: Stasiun Beos, sebelah Barat Jl. Pakin dekat Museum Bahari, Ancol, RE Martadinata dan Gunung Sahari. 
Guci-guci istimewa
Setelah kita membeli tiket, kita akan memasuki pintu di sebelah kiri menuju ruang-ruang keramik, dengan beberapa lukisan, suasananya nyaman dan bersih, ada juga lantai 2 yang berisikan guci-guci dan berbagai hasil karya indah.  

Bagian luar ruangan
Selanjutnya kita akan melewati halaman-halaman terbuka hijau dengan beberapa hiasan ukiran kayu di beberapa tempat selama kita menuju ke ruang-ruang lain. Ada ruangan yang begitu kita masuk di dalamnya, kita akan disambut dengan lukisan-lukisan gunung meletus yang wow, dan menyusuri sisa ruang lukis itu dengan takjub (khususnya bagi pecinta seni lukis). Di beberapa area tengah, terdapat kerajinan tanah liat dan juga patung-patung batu.

Lukisan bernilai tinggi
Secara garis besar, museum ini menyajikan koleksi dari hasil karya seniman-seniman Indonesia sejak kurun waktu 1800-an hingga saat sekarang. Koleksi Seni Lukisnya dibagi menjadi beberapa ruangan berdasarkan periodisasi yaitu, (1) Ruang Masa Raden Saleh (karya-karya periode 1880 - 1890), (2) Ruang Masa Hindia Jelita (karya-karya periode 1920-an), (3) Ruang Persagi (karya-karya periode 1930-an), (4) Ruang Masa Pendudukan Jepang (karya-karya periode 1942 - 1945), (5) Ruang Pendirian Sanggar (karya-karya periode 1945 - 1950), (6) Ruang Sekitar Kelahiran Akademis Realisme (karya-karya periode 1950-an), dan (7) Ruang Seni Rupa Baru Indonesia (karya-karya periode 1960 - sekarang).

Ruang Lukisan
Untuk Koleksi seni rupa menampilkan patung-patung seperti Totem Asmat dan lain-lain. Sedangkan koleksi keramik menampilkan keramik dari beberapa daerah Indonesia dan seni kreatif kontemporer. Selain itu ada juga koleksi keramik dari mancanegara seperti keramik dari Tiongkok, Thailand, Vietnam, Jepang dan Eropa dari abad 16 sampai dengan awal abad 20. Dijamin koleksi seni rupa dan juga lukisan yang telah diulas di atas, berkualitas tinggi dan menginspirasikan kita untuk berkarya. Tak jarang juga menuntut kita untuk berfikir, kok bisa ya lukisan ini dibuat? Bagaimana benda ini dibentuk? Ini lukisan 3D atau apa ya? Dan lain sebagainya, just enjoy it!

Keramik Naga!
Untuk dikenang bagi penulis:
Museum Seni Rupa dan Keramik memiliki nilai perawatan yang baik, kali kedua berkunjung, museum ini sudah memiliki ruang ber-AC dan kebersihannya semakin terjaga. Lain hal nya bila kita berkunjung ke Museum Keprajuritan di Taman Mini Indonesia Indah, rasanya sayang sekali melihat hasil karya, terutama lukisan yang di’isengi’ oleh tangan-tangan tidak bertanggung jawab. Anyway, Museum Seni Rupa dan Keramik adalah Museum penutup untuk penjelajahan museum kali ini, thank you very much buat yang sudah mengantarku berkelana, setelah hari itu, aku jadi bisa mempromosikan dan menjadi guide kunjungan museum ke banyak orang, Museum it’s really fun! :D


Lorong Museum Seni
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk yang membaca.
Salam hangat,
true.ewi@gmail.com
(ke lokasi Maret dan Oktober 2012, ditulisnya Februari 2013 :D)

Tambahan Literatur:
*Wikipedia
*Jakarta.go.id
*museumindonesia.com

MUSEUM WAYANG

Berpetualang di Museum, part 4

Wayang Golek besar
Museum Wayang, dari namanya, kita sudah bisa menebak tentang apa isi dari museum tersebut, iya ga? tapi seperti apapun bayangan kita tentang isi museum itu, tidak akan sebanding dengan pengalaman seru bila kita mengunjungi tempat itu secara langsung. Terletak di Jl. Pintu Besar Utara No.27 Jakarta Kota 11110, Museum Wayang masih bisa dibilang bertetangga dengan Museum Fatahillah dan Museum Keramik. Harga tiket masuk dewasa cukup Rp.2000,-, mahasiswa Rp.1.000,- dan anak Rp.600,-.
Tiket Masuk :)



Bila kita perhatikan lebih detail, Gedung Museum ini memang tampak unik, karena sebenarnya gedung ini adalah Gereja Lama Belada bernama De Oude Hollandsche Kerk yang pertama kali dibangun pada tahun 1640. Gedung yang bergaya Neo Renaissance ini sempat diperbaiki pada tahun 1732 dan berganti nama menjadi De Nieuwe Hollandse Kerk. Pada tahun 1808, terjadilah gempa yang berdampak negatif pada gedung. Pemugaran gedung pun dilakukan dan dijadikan sebagai museum wayang oleh Gubernur Jakarta, Pak Ali Sadikin pada tanggal 13 Agustus 1975.


Display wayang
Museum wayang memiliki koleksi wayang yang oke punya dan bermacam jenis. Ada yang terbuat dari kayu, kulit, dan bahan-bahan lain dengan jumlah mencapai angka 4.000 buah wayang! Woow! Bahkan sumber lain menyebutkan sekarang jumlahnya sudah bertambah menjadi 5.147 buah. Ada wayang golek, wayang kulit, wayang kardus, wayang rumput (unik banget nih), wayang janur, wayang boneka dari berbagai negara, topeng-topeng wayang, hingga gamelan sebagai pengiring pertunjukan wayang. Berita baiknya, pada tanggal 7 November 2003, PBB memutuskan mengakui wayang Indonesia sebagai warisan dunia yang patut dilestarikan :)

Dari berbagai negara
Sebelum melangkah lebih jauh tentang isi museum, kita patut tahu apa sebenarnya wayang itu? Apa hanya terdapat di Indonesia? Yuk disimak,. Wayang secara etimologi berasal dari kata ‘bayang-bayang’. Awalnya wayang ini digunakan untuk melakukan komunikasi dengan roh leluhur atau nenek moyang, dan perantaranya disebut dalang. Namun akhirnya berkembang menjadi sebuah sarana hiburan, pendidikan, media informasi maupun ajaran moral. Di negara lain, ada sarana serupa wayang namun tidak disebut sebagai wayang, ada yang seperti boneka yang besarnya bervariasi dan berwujud variasi pula, sedikit mengingatkan kita pada film boneka ‘chunky’. Nah, di museum ini ada tuh koleksi boneka tersebut, benda-benda itu berasal dari kawasan Asia hingga Eropa: Thailand, Malaysia, Suriname, Kelantan, Kamboja, India, Pakistan, Vietnam, Perancis, Inggis, dan Amerika. Jumlah koleksi ini didapatkan dari pembelian, hibah, sumbangan dan titipan.

Salah satu lorong
Oke, melangkah memasuki gedung museum, kita akan disambut oleh ondel-ondel, sang maskot khas Ibukota Provinsi DKI Jakarta, selanjutnya kita akan menelusuri lorong yang menampilkan wayang-wayang besar dan kecil. Termasuk koleksi wayang dari Bali. Setelah itu kita akan memasuki ruangan-ruangan yang berisi banyak sekali koleksi wayang, mulai dari wayang Indonesia, hingga akhirnya boneka-boneka dari luar negeri. Di beberapa ruangan, terdapat media informasi mengenai bentuk-bentuk wayang beserta artinya, serta terdapat pula silsilah sejarah beberapa wayang asli Indonesia.

Taman Museum Wayang
Memasuki bagian tengah Gedung, terdapat Taman Museum Wayang, di sini kita bisa melihat ada prasasti-prasasti besar peninggalan Belanda yang menjadi objek foto-foto para turis lokal (terutama), tapi tidak banyak yang tahu bahwa tempat itu dulunya merupakan Makam Jan Pieterszoon Coen dan teman-temannya. Nama-nama yang tertera di prasasti Taman Museum Wayang adalah nama-nama pejabat Belanda yang pernah dikubur di sana. Jadi bila bisa digambarkan, dahulu tempat itu adalah taman tempat peristirahatan terakhir dari Gereja tersebut, seperti di film-film. Tapi tenang saja, menurut literatur, karena ada pergeseran lahan, makam-makam tersebut direlokasi ke tempat lain, yaitu di Museum Prasasti *tempat prasasti Soe Hok Gie berada.

Souvenir center
Lanjut, diakhir perjalanan dalam museum ini, kita akan menuruni lorong menurun yang mengantarkan kita kepada toko souvenir lengkap dengan asistensi dalam pembuatan wayang, bagi siapa yang berminat pada proses pembuatan wayang, mintalah penjelasan kepada bapak penjaga di area ini.

Informasi di lantai
Ohya, untuk pertunjukan, Museum wayang mempunyai jadwal rutin pada pukul 10.00 – 14.00, yaitu untuk Pergelaran Wayang Golek setiap Minggu II, Pergelaran Wayang Kulit Betawi Minggu III dan Pergelaran Wayang Kulit Purwa Minggu Terakhir, tapi untuk kepastian pertunjukan, silahkan kontak terlebih dahulu ke nomor 021. 62929560 atau 6927289. Hal yang perlu diingat, seperti museum-museum lain, hari buka Museum Wayang yaitu Selasa sampai dengan Minggu, sedangkan Senin dan hari-hari besar, museum libur.

Gamelan
Untuk dikenang bagi penulis: Ada dua hal yang berkesan, pertama: aku membaca literatur dan nonton tv tentang museum wayang seusai jalan-jalan ke museum tersebut, barulah paham tentang taman wayang dan sejarah-sejarahnya. Tak lama, pada kesempatan yang lain, aku berkunjung ke museum prasasti dan berkata pada temanku di depan salah satu tumpukan prasasti, ini makam pindahan dari museum wayang, dan museum wayang dulunya itu gereja. Kemudian temanku membalas “masa sih?” dan akhirnya kami berkunjung ulang ke museum wayang untuk mencari pembuktian :D


Wayang topeng
Kedua: saat kunjungan kedua itu berdekatan dengan hari keberangkatanku ke Seoul, jadi selama perjalanan museum, kami berbincang (practice) dalam bahasa inggris dan orang-orang memperhatikan, berasa turis :)






Monumen
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk yang membaca.
Salam hangat, true.ewi@gmail.com
(ke lokasi Maret dan Oktober 2012, ditulisnya Februari 2013 :D)

Tambahan Literatur:
*Wikipedia.org
*http://www.jalanjajanhemat.com
*http://www.museumwayang.com

Sabtu, 31 Maret 2012

MUSEUM FATAHILLAH


(Maret 2012)
Berpetualang di Museum, part 3

Prasati di Museum Fatahillah
Penduduk Jakarta mana yang tak kenal Museum Fatahilah atau gedung yang identik dengan “Kota Tua” ini? Terletak di Jl. Taman Fatahillah 1, Museum Fatahillah dulunya adalah Balaikota atau Stadhius yang selesai didirikan oleh Belanda pada tahun 1712. Di tempat inilah masyarakat Batavia (sebutan untuk penduduk Jakarta pada zaman tersebut) kala itu datang untuk mengurus segala keperluan mereka, mulai dari izin perkawinan, usaha, bangunan, hingga memperjuangkan kesejahteraan bagi masyarakat. Dengan kata lain, segala keputusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak diambil oleh para penguasa kota dari balik gedung ini (Lenggak-Lenggok Jakarta, 2000).



Peta Bangunan
Museum Fatahillah adalah Museum Sejarah bagi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Tak hanya urusan kependudukan, Stadius juga dikenal dengan sebutan College van Schepen (Dewan Kotapraja), yang menangani berbagai perkara hukum pidana dan perdata antarwarga kota. Di gedung ini, berbagai proses peradilan hingga eksekusi bagi para terdakwa dilakukan. Sehingga tak heran bila pada saat pertama kita memasuki gedung ini, kita akan disambut dengan patung-patung yang memperlihatkan prosesi pemenggalan dan penggantungan kepala manusia yang pernah terjadi saat itu. Tapi jangan takut, tidak semua hal di gedung ini berkesan horor. Yuk kita simak lebih jauh.


Tiket Masuk, hanya 2ribu rupiah saja
Untuk masuk ke dalam museum, kita cukup mengeluarkan uang senilai dua ribu rupiah per orang. Setelah itu kita bebas menelusuri dan berimajinasi sejak pertama menginjakkan kaki di sana. Begitu melewati pintu besar utama ke dalam gedung, terdapat denah museum yang sangat membantu kita untuk mengetahui letak-letak ruangan atau barang yang kita ingin lihat. Sejenak mungkin gedung ini terlihat hanya memiliki 2 lantai, tapi kenyataannya tidak. Di bawah lantai satu, masih ada lantai lagi yang lebih bawah dan bisa kita lihat dari belakang gedung.


Jejak Kaki Petinggi Mataram
Dari pintu masuk di lantai satu, bila kita belok ke kanan, akan ada ruangan tempat arca-arca dan benda-benda peninggalan zaman kerajaan Majapahit, hingga zaman penjajahan kolonial Belanda dan Jepang. Akan ada lukisan-lukisan, prasasti kaki Raja Mulawarman, hingga benda-benda antik dan bersejarah lainnya terpajang dalam nuansa seperti berada di dek kapal, dengan jembatan kayu untuk kita berpijak. 


Lukisan Bpk. Sujdojdono

Memasuki sayap kiri museum, kita akan disambut dengan patung-patung yang telah disebutkan tadi dan lukisan besar mahakarya bapak Sujdojdono yang menggambarkan tentang perang besar yang pernah terjadi di depan Stadhius. Cermatilah perlahan lukisan tersebut, kita akan menemukan Stadhius berdiri megah berwarna putih di tengah atas dengan disekelilingnya hiruk pikuk api peperangan.




Meja Kursi Karya Raffles
Naik ke lantai 2, kita akan melihat beberapa benda yang didesain oleh Raffles, cerdik dan mendetail, sangat khas dengan ukiran-ukiran yang masih terinspirasi dari asal kebangsaannya, ada lemari, meja kursi, hingga tempat tidur bayi. Selain benda-benda karya Raffles, adapula Lukisan Pangeran Diponegoro hasil Karya Raden Saleh yang selalu para tourguide banggakan kapada para turis yang datang berkunjung ke museum tersebut. Lukisan bernilai sejarah lainnya juga bisa kita lihat pada dinding atas pintu masuk museum yang menggambarkan tentang justice, sejalan dengan nilai Dewan Kotapraja tadi. Selanjutnya pada beberapa titik di dalam dan diluar bangunan ini juga terdapat meriam-meriam dan guci-guci antik yang masih dipertahankan keberadaannya.

Tangga menuju menara
Di lantai 2, sebenarnya kita bisa melihat ada tangga lain berwarna merah yang menjulang melewati plafon atap, kemanakah kiranya tangga itu menuju? Yap, ke menara tentunya. Namun sayang akses ini tertutup untuk umum. Selain tangga ke menara, ada pula tangga ke bawah menuju penjara bawah tanah. Hiiii, apakah itu? Menurut sejarahnya, Stadhius menjadi begitu mengerikan karena adanya penjara bawah tanah yang ditunjukkan bagi para saksi sebuah perkara dan para terdakwa yang akan diadili. Konon, para pesakitan tersebut harus mendekam di sana dalam keadaan mencekam dan ditemani banyak lintah. Di dalam penjara tersebut, para pesakitan direndam di air setinggi kurang lebih 90 cm dalam kondisi tangan terantai.


Area penjara bawah tanah berair yang masih bisa kita lihat ada di ujung sebelah kanan gedung, kira-kira ada tangga kecil disudut yang mengarah pada sebuah ruangan lebar tapi cukup rendah dengan setengah tingginya terendam air. Selanjutnya pada bagian belakang gedung, tampaklah penjara-penjara “kering” yang atapnya juga rendah seperti goa buatan. Penjara-penjara ini pada zaman tersebut tidaklah se”bersih” dan se”tenang” pada saat kini kita kunjungi, tapi tidak perlu kita bayangkanlah ya, serem,,.


Salah satu relief tulisan
Dari literatur yang pernah dibaca, sebenarnya penjara bawah tanah tidak hanya dua yang telah disebutkan diatas, tapi ada juga area lebih luas hingga keluar dari gedung tersebut hingga ke jalan, terdapat lekukan seperti loteng kaca tembus pandang yang terendam sejajar dengan lantai untuk bisa memantau penjara yang satu ini. Namun sepertinya zaman telah membuat penjara ini tidak lagi bisa diakses dan sudah ditutup demi kemaslahatan umat, hehe,.


Lukisan di dinding atas, tentang keadilan
Sekalian cerita yang seram-seram, sebenarnya terdapat hukuman yang lebih sadis diberlakukan pada mereka yang menurut para hakim telah melakukan kesalahan. A Heukeun SJ, seorang pengamat sejarah mencatat berbagai hukuman sadis tersebut, salah satu hukuman yang diberlakukan adalah hukuman mati pada tiang gantung di depan Stadhius. Menurut informasi, ketika hukuman ini diberlakukan, masyarakat sekitar “diundang” untuk menyaksikan. Undangan disebar dengan cara membunyikan lonceng yang sampai kini masih tetap terpasang diatas bangunan (nah, sekarang kita tau tentang isi menara yang aksesnya ditutup itu). Hal ini merupakan peringatan kepada masyarakat agar tidak menentang Belanda. Benda eksekusi seperti pisau panjang yang dulunya sering digunakan untuk memenggal kepala terhukum juga masih tersimpan di museum ini.

Miniatur Klenteng
Oke, selesai dengan yang seram-seram, sekarang kita berlanjut dengan memasuki halaman yang berada di belakang museum. Ada sebuah patung seukuran anak kecil usia 10 tahun berwarna emas terpajang di dekat tangga keluar. Agaknya patung ini telah mencuri sedikit perhatian pengunjung karena patung ini tidak berpakaian, ups! Yah, sebenarnya ada yang lebih penting dibanding dengan fisik patung tersebut, tapi soal sejarah yang terkandung di dalamnya. “Hermes belum kembali”, begitulah riwayat patung ini ditulis dalam sebuah literatur. Patung Hermes atau dikenal juga sebagai Patung Mercuri dan Patung Perniagaan Pembawa Keberuntungan, adalah patung perunggu yang dipercaya sebagai simbol perniagaan sebab letaknya di mulut Jalan Hayam Wuruk yang pada saat itu sudah merupakan daerah perdagangan yang cukup ramai. Patung tersebut dibangun bersamaan dengan Jembatan Harmoni pada tahun 1905, dan terus ditempatkan di atas jembatan hingga pada tanggal 20 Agustus 1999, patung tersebut raib entah kemana.

Benda-benda bernilai seni dan sejarah tinggi
Untungnya, patung tersebut berhasil ditemukan dengan keadaan masih bagus. Pemerintah DKI Jakarta tidak langsung mengembalikan patung tersebut pada tempatnya dan berencana membuat replikanya, sedangkan yang asli kini berada di museum Fatahillah yang sedang kita bahas sekarang. Itulah sebabnya mengapa disebut “Hermes belum kembali”, karena ia belum kembali ke Jembatan Harmoni lagi.





Relief bergambar
Selanjutnya, di halaman belakang masih bisa kita jumpai koleksi meriam, tempat minum kuda, dan beberapa prasasti di depan kantin. Prasasti ini berdiri tegak dengan relief-relief dan tulisan yang seperti biasa, sangat mempesona bagi pengagum sejarah. Dililit dengan tanaman merambat, prasasti ini seakan dibiarkan meng’kuno’ dimakan zaman oleh pihak pengelola, benda-benda kuno lainnya pun seakan terbengkalai. Memang, bila kita lihat sepintas, benda-benda yang ada disekitar museum seakan tak berarti, tak jarang kita akan menjumpai benda-benda tersebut malah sengaja dirusak oleh pengunjung, seperti lukisan-lukisan di Museum Keprajuritan TMII misalnya. Sedih sekali melihatnya. 


Properti di zaman kononial Belanda
Tapi seperti kata orang utama, bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai leluhurnya. Dan sepakat dengan beberapa ahli sejarah, meskipun penjajah telah merugikan bangsa ini, tapi peninggalannya yang luar biasa pun banyak membawa manfaat bagi Indonesia, sebut saja contohnya Sekolah Kedokteran Stovia buatan Belanda yang akhirnya menjadi cikal bakal berdirinya Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, atau Kebun Raya Bogor yang dibangun oleh Gubernur Raffles dan kemajuan-kemajuan lain dalam berbagai bidang, termasuk perekonomian yang telah dibuktikan dengan adanya sejarah Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia. 


Stadhius
Sedikit pesan, kita bisa memulai menjadi bangsa yang besar dengan mempelajari sejarah, menjaga keabsahan sejarah, jangan merusak properti sejarah dan jangan asal mencela yang tidak dimengerti. Oke, yuk kita rame-rame datang berkunjung ke museum!





Untuk dikenang bagi penulis:
Beribu sejarah pada satu benda
Seandainya aku punya pengetahuan lebih banyak tentang tempat ini sebelum datang berkunjung, mungkin waktu seharian tidaklah cukup untuk menuntaskan rasa penasaran terhadap sejarah museum ini. Hal yang membuat sangat berdebar-debar adalah ketika mengetahui asal muasal keberadaan museum ini, hubungannya dengan museum-museum lain, dan seperti apa kita bisa membayangkan keadaan di museum ini beratus tahun silam. Sangat menarik mendengar orang bercerita tentang pengalaman seramnya dalam museum ini, atau mungkin kita sendiri yang merasakan adanya ‘ketertarikan’ secara magis terhadap tempat ini. Well, it’s really interesting!

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk yang membaca.
Salam hangat,
true.ewi@gmail.com

Tambahan Literatur:
Lenggak-Lenggok Jakarta, 2000

Senin, 03 Oktober 2011

MUSEUM BANK MANDIRI

(September 2011)
Berpetualang di Museum, part 2

Tiket masuk museum
Gedung Museum Bank Mandiri terletak di Jl. Lapangan Stasiun No. 1 (Stationsplein 1 - Binnen Niuewpoortstraat) yang dulunya berada dalam satu taman menyatu dengan Stasiun Kerata Api Jakarta-Kota atau Beos (Bataviasche Oosterspoorweg Maatschap-pij). Dilihat dari luar, aksen kolonial menempel pada gedung yang bercat putih ini, namun bila kita sudah menginjakkan kaki ke dalam museum, pemandangan sekejap berubah seperti berada di daerah Texas. Dengan didominasi warna coklat, berunsur kayu, dan dilengkapi penunjuk arah, kita bisa merasakan ‘hawa’ petualangan koboi yang cukup menarik.



inside museum, main entrace
Untuk masuk ke dalam museum, kita harus membayar dua ribu rupiah per orang (dewasa) bila kita bukan pelajar atau bukan nasabah Bank Mandiri. Setelah mendapatkan tiket, kita bisa memulai petualangan kita di main entrance tepat di tengah bagian depan bangunan. Akan terlihat ruangan yang luas, disisipi dengan meja duduk tinggi, loket-loket dan barang-barang perbankan yang di’awet’kan dan beberapa ruangan kecil menyusup di beberapa sisi tembok yang tidak bisa kita masuki, ruang-ruang itu merupakan tempat menyimpan berkas-berkas seperti buku besar (General Ledger) dan di’tunggui’ oleh patung-patung manusia, sekilas seperti ingin mengisahkan bagaimana keadaan museum ini selagi masih aktif.

Pameran tertata rapi dan fleksibel
Patung-patung/ replika-replika tersebut juga tampak di beberapa site seperti di tempat kasir, tempat pelayanan haji dan sebagainya yang cukup menambah kesan hidup. Tak hanya patung, museum Bank Mandiri juga mempunyai koleksi benda seni seperti lukisan kaca /kaca patri dan beberapa patung peninggalan kolonial yang mengandung unsur kepercayaan. Unsur seni pun terlihat dari lantai lobby, ruang rapat dan ruang direksinya yang memakai bahan mozaik keramik bercampur kaca (glasmozaik-tegels), sedangkan ruangan yang lain memakai tegel ubin (vloertegels) berwarna hitam, abu-abu dan merah.


Lanjut lagi menjelajahnya, bila kita berjalan ke sisi kiri dari main entrace, kita akan menjumpai sekat-sekat bertuliskan deposit, koleksi mesin fax yang ditempel di dinding, hingga mesin pencetak uang di area pajangan. Kemudian kita akan mengikuti alur dan berjalan memutari ruangan bermandikan cahaya sinar kuning dari lampu-lampu gantung berukuran besar ke sisi kiri dari main entrace. Di sini terdapat Chinese Cashier yang sepertinya menyembunyikan suatu ruangan yang misterius :D

chinese cashier
Bergeser ke samping kanan lagi dari Chinese Cashier, kita akan memasuki ruang urusan haji (beserta patungnya tentu) dan panel ke ruang-ruang berikutnya yang berisi sebagian koleksi peti uang, mesin hitung uang, surat-surat berharga seperti bilyet deposito, sertifikat deposito, cek, obligasi dan saham, serta uang kuno. Koleksi yang lebih banyak bisa kita lihat di lantai atas. Tangganya ada di dekat pintu masuk main entrace, dihiasi dengan prasasti kaca patri yang besar dan berwarna warni, hadiah dari Dr.CJK van Aalst dari Amsterdam.




ruang rapat direksi
Tiba di lantai atas, kita akan disambut dengan hangat oleh ruang rapat direksi yang terbuka lebar, lengkap dengan patung Garuda dan foto-foto tokoh berpengaruh di Bank Mandiri. Kita bahas sekilas tentang sejarah Bank Mandiri, dimulai dari berdirinya cabang pertama Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) NV di Batavia atas prakarsa Raja Willem I pada tanggal 27 Februari 1826 dengan nama Factorij. NHM bertujuan untuk memulihkan perdagangan Belanda dengan negara jajahannya Hindia Belanda. Lain halnya dengan Verenigde Oost Indische Compagnij (VOC) dahulu, yang terbatas pada penyaluran produk Hindia-Belanda ke negeri induknya, jadi tidak timbal balik. Bagi NHM titik pangkalnya adalah gerak perdagangan kedua pihak.


gaya kolonial
Melihat perkembangan politik-ekonomi saat itu, NHM yang merupakan bank asing milik Belanda dinasionalisasi oleh Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 5 Desember 1960 yang kemudian dilebur ke dalam Bank Koperasi Tani & Nelayan (BKTN). Lalu berubah-berubah lagi hingga akhirnya menjadi Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim) tanggal 31 Desember 1968. Kemudian Bank Exim bermerger dengan 3 bank pemerintah lainnya, yaitu Bank Bumi Daya (BBD), Bank Dagang Negara (BDN) dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) menjadi Bank Mandiri dan mempunyai 255 kantor cabang di dalam negeri dan 3 kantor perwakilan luar negeri. Kantor Pusat terakhir berlokasi di Jl. Gatot Subroto Kav. 36-38 Jakarta.





Pameran surat berharga dan sejarah museum
Memang bila dibandingkan dengan museum Bank Indonesia yang diluar terlihat kuno namun di dalamnya sangat modern, maka museum Bank Mandiri adalah kebalikannya, koboi dan santai. Pesannya, kemanapun kita pergi, terutama ke tempat-tempat bersejarah, tolong jaga kebersihan ya, jangan buang sampah sembarangan dan jangan corat-coret sembarangan. Jangan merusak yang bukan haknya dan jangan asal mencela yang tidak dimengerti. Oke, yuk kita rame-rame datang berkunjung ke museum!




Pameran fax dari masa ke masa
Untuk dikenang bagi penulis:
Museum Bank Mandiri menambah khasanah perbankan dan permuseuman tersediri bagi penulis. Banyaknya ruangan dan detail arsitekturnya yang sangat kolonial bercampur cahaya kuning temaram membuat perasaan horor tapi penasaran, bercampur jadi satu. Beberapa pojok ruangan bisa membuat kesan seperti sedang berada di ruang isolasi atau penjara. Meskipun tersedia kipas angin di langit-langit, namun besarnya ruangan membuat udara kurang terasa sejuk. Pesan yang sama, semoga kedepan Bank Mandiri terus dipegang oleh tangan-tangan yang jujur dan memperhatikan masyarakat, sehingga tidak ada lagi masalah ekonomi yang demikian terpuruk menimpa lagi pada bangsa ini. Amin :D

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk yang membaca.
Salam hangat,
true.ewi@gmail.com

Tambahan Literatur:
Situs Resmi Bank Madiri Indonesia.