Sabtu, 31 Maret 2012

MUSEUM FATAHILLAH


(Maret 2012)
Berpetualang di Museum, part 3

Prasati di Museum Fatahillah
Penduduk Jakarta mana yang tak kenal Museum Fatahilah atau gedung yang identik dengan “Kota Tua” ini? Terletak di Jl. Taman Fatahillah 1, Museum Fatahillah dulunya adalah Balaikota atau Stadhius yang selesai didirikan oleh Belanda pada tahun 1712. Di tempat inilah masyarakat Batavia (sebutan untuk penduduk Jakarta pada zaman tersebut) kala itu datang untuk mengurus segala keperluan mereka, mulai dari izin perkawinan, usaha, bangunan, hingga memperjuangkan kesejahteraan bagi masyarakat. Dengan kata lain, segala keputusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak diambil oleh para penguasa kota dari balik gedung ini (Lenggak-Lenggok Jakarta, 2000).



Peta Bangunan
Museum Fatahillah adalah Museum Sejarah bagi Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Tak hanya urusan kependudukan, Stadius juga dikenal dengan sebutan College van Schepen (Dewan Kotapraja), yang menangani berbagai perkara hukum pidana dan perdata antarwarga kota. Di gedung ini, berbagai proses peradilan hingga eksekusi bagi para terdakwa dilakukan. Sehingga tak heran bila pada saat pertama kita memasuki gedung ini, kita akan disambut dengan patung-patung yang memperlihatkan prosesi pemenggalan dan penggantungan kepala manusia yang pernah terjadi saat itu. Tapi jangan takut, tidak semua hal di gedung ini berkesan horor. Yuk kita simak lebih jauh.


Tiket Masuk, hanya 2ribu rupiah saja
Untuk masuk ke dalam museum, kita cukup mengeluarkan uang senilai dua ribu rupiah per orang. Setelah itu kita bebas menelusuri dan berimajinasi sejak pertama menginjakkan kaki di sana. Begitu melewati pintu besar utama ke dalam gedung, terdapat denah museum yang sangat membantu kita untuk mengetahui letak-letak ruangan atau barang yang kita ingin lihat. Sejenak mungkin gedung ini terlihat hanya memiliki 2 lantai, tapi kenyataannya tidak. Di bawah lantai satu, masih ada lantai lagi yang lebih bawah dan bisa kita lihat dari belakang gedung.


Jejak Kaki Petinggi Mataram
Dari pintu masuk di lantai satu, bila kita belok ke kanan, akan ada ruangan tempat arca-arca dan benda-benda peninggalan zaman kerajaan Majapahit, hingga zaman penjajahan kolonial Belanda dan Jepang. Akan ada lukisan-lukisan, prasasti kaki Raja Mulawarman, hingga benda-benda antik dan bersejarah lainnya terpajang dalam nuansa seperti berada di dek kapal, dengan jembatan kayu untuk kita berpijak. 


Lukisan Bpk. Sujdojdono

Memasuki sayap kiri museum, kita akan disambut dengan patung-patung yang telah disebutkan tadi dan lukisan besar mahakarya bapak Sujdojdono yang menggambarkan tentang perang besar yang pernah terjadi di depan Stadhius. Cermatilah perlahan lukisan tersebut, kita akan menemukan Stadhius berdiri megah berwarna putih di tengah atas dengan disekelilingnya hiruk pikuk api peperangan.




Meja Kursi Karya Raffles
Naik ke lantai 2, kita akan melihat beberapa benda yang didesain oleh Raffles, cerdik dan mendetail, sangat khas dengan ukiran-ukiran yang masih terinspirasi dari asal kebangsaannya, ada lemari, meja kursi, hingga tempat tidur bayi. Selain benda-benda karya Raffles, adapula Lukisan Pangeran Diponegoro hasil Karya Raden Saleh yang selalu para tourguide banggakan kapada para turis yang datang berkunjung ke museum tersebut. Lukisan bernilai sejarah lainnya juga bisa kita lihat pada dinding atas pintu masuk museum yang menggambarkan tentang justice, sejalan dengan nilai Dewan Kotapraja tadi. Selanjutnya pada beberapa titik di dalam dan diluar bangunan ini juga terdapat meriam-meriam dan guci-guci antik yang masih dipertahankan keberadaannya.

Tangga menuju menara
Di lantai 2, sebenarnya kita bisa melihat ada tangga lain berwarna merah yang menjulang melewati plafon atap, kemanakah kiranya tangga itu menuju? Yap, ke menara tentunya. Namun sayang akses ini tertutup untuk umum. Selain tangga ke menara, ada pula tangga ke bawah menuju penjara bawah tanah. Hiiii, apakah itu? Menurut sejarahnya, Stadhius menjadi begitu mengerikan karena adanya penjara bawah tanah yang ditunjukkan bagi para saksi sebuah perkara dan para terdakwa yang akan diadili. Konon, para pesakitan tersebut harus mendekam di sana dalam keadaan mencekam dan ditemani banyak lintah. Di dalam penjara tersebut, para pesakitan direndam di air setinggi kurang lebih 90 cm dalam kondisi tangan terantai.


Area penjara bawah tanah berair yang masih bisa kita lihat ada di ujung sebelah kanan gedung, kira-kira ada tangga kecil disudut yang mengarah pada sebuah ruangan lebar tapi cukup rendah dengan setengah tingginya terendam air. Selanjutnya pada bagian belakang gedung, tampaklah penjara-penjara “kering” yang atapnya juga rendah seperti goa buatan. Penjara-penjara ini pada zaman tersebut tidaklah se”bersih” dan se”tenang” pada saat kini kita kunjungi, tapi tidak perlu kita bayangkanlah ya, serem,,.


Salah satu relief tulisan
Dari literatur yang pernah dibaca, sebenarnya penjara bawah tanah tidak hanya dua yang telah disebutkan diatas, tapi ada juga area lebih luas hingga keluar dari gedung tersebut hingga ke jalan, terdapat lekukan seperti loteng kaca tembus pandang yang terendam sejajar dengan lantai untuk bisa memantau penjara yang satu ini. Namun sepertinya zaman telah membuat penjara ini tidak lagi bisa diakses dan sudah ditutup demi kemaslahatan umat, hehe,.


Lukisan di dinding atas, tentang keadilan
Sekalian cerita yang seram-seram, sebenarnya terdapat hukuman yang lebih sadis diberlakukan pada mereka yang menurut para hakim telah melakukan kesalahan. A Heukeun SJ, seorang pengamat sejarah mencatat berbagai hukuman sadis tersebut, salah satu hukuman yang diberlakukan adalah hukuman mati pada tiang gantung di depan Stadhius. Menurut informasi, ketika hukuman ini diberlakukan, masyarakat sekitar “diundang” untuk menyaksikan. Undangan disebar dengan cara membunyikan lonceng yang sampai kini masih tetap terpasang diatas bangunan (nah, sekarang kita tau tentang isi menara yang aksesnya ditutup itu). Hal ini merupakan peringatan kepada masyarakat agar tidak menentang Belanda. Benda eksekusi seperti pisau panjang yang dulunya sering digunakan untuk memenggal kepala terhukum juga masih tersimpan di museum ini.

Miniatur Klenteng
Oke, selesai dengan yang seram-seram, sekarang kita berlanjut dengan memasuki halaman yang berada di belakang museum. Ada sebuah patung seukuran anak kecil usia 10 tahun berwarna emas terpajang di dekat tangga keluar. Agaknya patung ini telah mencuri sedikit perhatian pengunjung karena patung ini tidak berpakaian, ups! Yah, sebenarnya ada yang lebih penting dibanding dengan fisik patung tersebut, tapi soal sejarah yang terkandung di dalamnya. “Hermes belum kembali”, begitulah riwayat patung ini ditulis dalam sebuah literatur. Patung Hermes atau dikenal juga sebagai Patung Mercuri dan Patung Perniagaan Pembawa Keberuntungan, adalah patung perunggu yang dipercaya sebagai simbol perniagaan sebab letaknya di mulut Jalan Hayam Wuruk yang pada saat itu sudah merupakan daerah perdagangan yang cukup ramai. Patung tersebut dibangun bersamaan dengan Jembatan Harmoni pada tahun 1905, dan terus ditempatkan di atas jembatan hingga pada tanggal 20 Agustus 1999, patung tersebut raib entah kemana.

Benda-benda bernilai seni dan sejarah tinggi
Untungnya, patung tersebut berhasil ditemukan dengan keadaan masih bagus. Pemerintah DKI Jakarta tidak langsung mengembalikan patung tersebut pada tempatnya dan berencana membuat replikanya, sedangkan yang asli kini berada di museum Fatahillah yang sedang kita bahas sekarang. Itulah sebabnya mengapa disebut “Hermes belum kembali”, karena ia belum kembali ke Jembatan Harmoni lagi.





Relief bergambar
Selanjutnya, di halaman belakang masih bisa kita jumpai koleksi meriam, tempat minum kuda, dan beberapa prasasti di depan kantin. Prasasti ini berdiri tegak dengan relief-relief dan tulisan yang seperti biasa, sangat mempesona bagi pengagum sejarah. Dililit dengan tanaman merambat, prasasti ini seakan dibiarkan meng’kuno’ dimakan zaman oleh pihak pengelola, benda-benda kuno lainnya pun seakan terbengkalai. Memang, bila kita lihat sepintas, benda-benda yang ada disekitar museum seakan tak berarti, tak jarang kita akan menjumpai benda-benda tersebut malah sengaja dirusak oleh pengunjung, seperti lukisan-lukisan di Museum Keprajuritan TMII misalnya. Sedih sekali melihatnya. 


Properti di zaman kononial Belanda
Tapi seperti kata orang utama, bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai leluhurnya. Dan sepakat dengan beberapa ahli sejarah, meskipun penjajah telah merugikan bangsa ini, tapi peninggalannya yang luar biasa pun banyak membawa manfaat bagi Indonesia, sebut saja contohnya Sekolah Kedokteran Stovia buatan Belanda yang akhirnya menjadi cikal bakal berdirinya Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, atau Kebun Raya Bogor yang dibangun oleh Gubernur Raffles dan kemajuan-kemajuan lain dalam berbagai bidang, termasuk perekonomian yang telah dibuktikan dengan adanya sejarah Museum Bank Mandiri dan Museum Bank Indonesia. 


Stadhius
Sedikit pesan, kita bisa memulai menjadi bangsa yang besar dengan mempelajari sejarah, menjaga keabsahan sejarah, jangan merusak properti sejarah dan jangan asal mencela yang tidak dimengerti. Oke, yuk kita rame-rame datang berkunjung ke museum!





Untuk dikenang bagi penulis:
Beribu sejarah pada satu benda
Seandainya aku punya pengetahuan lebih banyak tentang tempat ini sebelum datang berkunjung, mungkin waktu seharian tidaklah cukup untuk menuntaskan rasa penasaran terhadap sejarah museum ini. Hal yang membuat sangat berdebar-debar adalah ketika mengetahui asal muasal keberadaan museum ini, hubungannya dengan museum-museum lain, dan seperti apa kita bisa membayangkan keadaan di museum ini beratus tahun silam. Sangat menarik mendengar orang bercerita tentang pengalaman seramnya dalam museum ini, atau mungkin kita sendiri yang merasakan adanya ‘ketertarikan’ secara magis terhadap tempat ini. Well, it’s really interesting!

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk yang membaca.
Salam hangat,
true.ewi@gmail.com

Tambahan Literatur:
Lenggak-Lenggok Jakarta, 2000

Senin, 03 Oktober 2011

MUSEUM BANK MANDIRI

(September 2011)
Berpetualang di Museum, part 2

Tiket masuk museum
Gedung Museum Bank Mandiri terletak di Jl. Lapangan Stasiun No. 1 (Stationsplein 1 - Binnen Niuewpoortstraat) yang dulunya berada dalam satu taman menyatu dengan Stasiun Kerata Api Jakarta-Kota atau Beos (Bataviasche Oosterspoorweg Maatschap-pij). Dilihat dari luar, aksen kolonial menempel pada gedung yang bercat putih ini, namun bila kita sudah menginjakkan kaki ke dalam museum, pemandangan sekejap berubah seperti berada di daerah Texas. Dengan didominasi warna coklat, berunsur kayu, dan dilengkapi penunjuk arah, kita bisa merasakan ‘hawa’ petualangan koboi yang cukup menarik.



inside museum, main entrace
Untuk masuk ke dalam museum, kita harus membayar dua ribu rupiah per orang (dewasa) bila kita bukan pelajar atau bukan nasabah Bank Mandiri. Setelah mendapatkan tiket, kita bisa memulai petualangan kita di main entrance tepat di tengah bagian depan bangunan. Akan terlihat ruangan yang luas, disisipi dengan meja duduk tinggi, loket-loket dan barang-barang perbankan yang di’awet’kan dan beberapa ruangan kecil menyusup di beberapa sisi tembok yang tidak bisa kita masuki, ruang-ruang itu merupakan tempat menyimpan berkas-berkas seperti buku besar (General Ledger) dan di’tunggui’ oleh patung-patung manusia, sekilas seperti ingin mengisahkan bagaimana keadaan museum ini selagi masih aktif.

Pameran tertata rapi dan fleksibel
Patung-patung/ replika-replika tersebut juga tampak di beberapa site seperti di tempat kasir, tempat pelayanan haji dan sebagainya yang cukup menambah kesan hidup. Tak hanya patung, museum Bank Mandiri juga mempunyai koleksi benda seni seperti lukisan kaca /kaca patri dan beberapa patung peninggalan kolonial yang mengandung unsur kepercayaan. Unsur seni pun terlihat dari lantai lobby, ruang rapat dan ruang direksinya yang memakai bahan mozaik keramik bercampur kaca (glasmozaik-tegels), sedangkan ruangan yang lain memakai tegel ubin (vloertegels) berwarna hitam, abu-abu dan merah.


Lanjut lagi menjelajahnya, bila kita berjalan ke sisi kiri dari main entrace, kita akan menjumpai sekat-sekat bertuliskan deposit, koleksi mesin fax yang ditempel di dinding, hingga mesin pencetak uang di area pajangan. Kemudian kita akan mengikuti alur dan berjalan memutari ruangan bermandikan cahaya sinar kuning dari lampu-lampu gantung berukuran besar ke sisi kiri dari main entrace. Di sini terdapat Chinese Cashier yang sepertinya menyembunyikan suatu ruangan yang misterius :D

chinese cashier
Bergeser ke samping kanan lagi dari Chinese Cashier, kita akan memasuki ruang urusan haji (beserta patungnya tentu) dan panel ke ruang-ruang berikutnya yang berisi sebagian koleksi peti uang, mesin hitung uang, surat-surat berharga seperti bilyet deposito, sertifikat deposito, cek, obligasi dan saham, serta uang kuno. Koleksi yang lebih banyak bisa kita lihat di lantai atas. Tangganya ada di dekat pintu masuk main entrace, dihiasi dengan prasasti kaca patri yang besar dan berwarna warni, hadiah dari Dr.CJK van Aalst dari Amsterdam.




ruang rapat direksi
Tiba di lantai atas, kita akan disambut dengan hangat oleh ruang rapat direksi yang terbuka lebar, lengkap dengan patung Garuda dan foto-foto tokoh berpengaruh di Bank Mandiri. Kita bahas sekilas tentang sejarah Bank Mandiri, dimulai dari berdirinya cabang pertama Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) NV di Batavia atas prakarsa Raja Willem I pada tanggal 27 Februari 1826 dengan nama Factorij. NHM bertujuan untuk memulihkan perdagangan Belanda dengan negara jajahannya Hindia Belanda. Lain halnya dengan Verenigde Oost Indische Compagnij (VOC) dahulu, yang terbatas pada penyaluran produk Hindia-Belanda ke negeri induknya, jadi tidak timbal balik. Bagi NHM titik pangkalnya adalah gerak perdagangan kedua pihak.


gaya kolonial
Melihat perkembangan politik-ekonomi saat itu, NHM yang merupakan bank asing milik Belanda dinasionalisasi oleh Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 5 Desember 1960 yang kemudian dilebur ke dalam Bank Koperasi Tani & Nelayan (BKTN). Lalu berubah-berubah lagi hingga akhirnya menjadi Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim) tanggal 31 Desember 1968. Kemudian Bank Exim bermerger dengan 3 bank pemerintah lainnya, yaitu Bank Bumi Daya (BBD), Bank Dagang Negara (BDN) dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) menjadi Bank Mandiri dan mempunyai 255 kantor cabang di dalam negeri dan 3 kantor perwakilan luar negeri. Kantor Pusat terakhir berlokasi di Jl. Gatot Subroto Kav. 36-38 Jakarta.





Pameran surat berharga dan sejarah museum
Memang bila dibandingkan dengan museum Bank Indonesia yang diluar terlihat kuno namun di dalamnya sangat modern, maka museum Bank Mandiri adalah kebalikannya, koboi dan santai. Pesannya, kemanapun kita pergi, terutama ke tempat-tempat bersejarah, tolong jaga kebersihan ya, jangan buang sampah sembarangan dan jangan corat-coret sembarangan. Jangan merusak yang bukan haknya dan jangan asal mencela yang tidak dimengerti. Oke, yuk kita rame-rame datang berkunjung ke museum!




Pameran fax dari masa ke masa
Untuk dikenang bagi penulis:
Museum Bank Mandiri menambah khasanah perbankan dan permuseuman tersediri bagi penulis. Banyaknya ruangan dan detail arsitekturnya yang sangat kolonial bercampur cahaya kuning temaram membuat perasaan horor tapi penasaran, bercampur jadi satu. Beberapa pojok ruangan bisa membuat kesan seperti sedang berada di ruang isolasi atau penjara. Meskipun tersedia kipas angin di langit-langit, namun besarnya ruangan membuat udara kurang terasa sejuk. Pesan yang sama, semoga kedepan Bank Mandiri terus dipegang oleh tangan-tangan yang jujur dan memperhatikan masyarakat, sehingga tidak ada lagi masalah ekonomi yang demikian terpuruk menimpa lagi pada bangsa ini. Amin :D

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk yang membaca.
Salam hangat,
true.ewi@gmail.com

Tambahan Literatur:
Situs Resmi Bank Madiri Indonesia.

Minggu, 03 Juli 2011

MUSEUM BANK INDONESIA

(Juni 2011)
Museum Bank Indonesia
Berpetualang di Museum, part 1

Museum Bank Indonesia, kira-kira apa yang kita fikirkan bila mendengar nama tempat tersebut? Apakah sebuah bank yang dimuseumkan? Atau mungkin segalanya tentang uang di Indonesia? Apapun bayangan kita, yang jelas ketika masuk ke dalam museum ini tidak akan ada kata menyesal, bener deh! Tapi seseru apa sih? Yuk kita simak,.

Bank Indonesia merupakan bank sentral yang secara langsung memberikan dampak pada perekonomian di masyarakat. Didirikan pada tanggal 1 Juli 1953, Bank Indonesia merupakan perpanjangan dari De Javasche Bank (DJB) yang didirikan pada tahun 1828. Saat ini, gedung yang dahulu digunakan oleh DJB dan Bank Indonesia tidak digunakan lagi untuk proses perbankan. Pemerintah telah menetapkan bangunan tersebut menjadi bangunan cadar budaya sehingga nilai historisnya yang tinggi bisa tetap terjaga. Dibuka pada pukul 08.00 pagi, bangunan yang kini kita sebut dengan Museum Bank Indonesia menyajikan segudang informasi menarik yang dikemas dalam bentuk cyber museum. Pembahasan tentang perjalanan Bank Indonesia dalam bidang kelembagaan, moneter, perbankan dan sistem pembayaran hingga pengetahuan tentang undang-undang yang berlaku dari waktu ke waktu, bisa kita dapatkan dengan senang hati. Langkah pertamanya yaitu dengan menjejakan kaki di Museum bank Indonesia.

Museum Bank Indonesia terletak di Jl. Pintu Besar Utama No.3 Jakarta Barat-Indonesia. Bisa kita hubungi di nomor telepon (6221) 2600158 Ext.8111,8102,8100 Up: Gede Aryana, Fax. 62-21-2601730 dan Emailnya adalah museum@bi.go.id. Websitenya bisa dilihat di http://www.bi.go.id. Museum ini dibuka tiap Selasa-Minggu, sedangkan hari Senin dan hari libur nasional museum ditutup.



Untuk masuk ke dalam Museum ini, kita tidak perlu membayar sepeserpun alias gratis. Cukup mengisi buku tamu, kita bisa menjelajah kedalam museum yang luas, apik, sejuk dan penuh kreatifitas. Saat berada di resepsionis, kita akan dipandu untuk menyimak ilmu apa yang bisa kita dapat dengan bantuan soal-soal yang harus diisi. Jumlah soal hanya 5, bentuknya multiple choice dan semua jawabannya ada di dalam museum secara berurutan, membuat kita seperti menjelajah sambil membawa peta harta karun yang berisi teka-teki untuk dipecahkan.

Kita akan memulai petualangan dengan memasuki lorong 3 dimensi, dimana terdapat uang-uang berbagai nilai berjatuhan dan menunggu untuk ditangkap dengan menggunakan bayangan kita. Peluk saja uang itu di dinding 3 dimensi dan hup! Uang pun pecah dan berubah menjadi informasi tentang sejarah dan nilai uang yang telah kita tangkap.

Setelah puas menangkap uang, kita akan memasuki theater area yang filmnya bisa dinikmati sesuai jadwal. Setelah itu kita akan tiba di area sejarah uang. Langkah pertama memasuki area ini, kita akan disambut oleh nuansa samudera lengkap dengan suara gemuruh ombaknya, dimana terdapat objek-objek berupa kapal dan barang muatan visualisasi dari sejarah awal jual-beli di dunia yaitu tukar-menukar barang (barter). Di Indonesia, sistem barter yang bernilai sama antar objek sangat dibutuhkan terutama untuk jual-beli rempah-rempah, masih ingat kan bagaimana peran Indonesia pada zaman VOC? Waw, belajar sejarah lagi ni :D

Dalam area sejarah, kita bisa mengetahui alasan mengapa uang diciptakan, uang dengan nilai intrinsik dan numerik, hingga pembentukan bank di Indonesia dan segala perubahannya. Bahkan ternyata, bank Indonesia sendiri telah mengalami belasan kali penggantian logo. Semuanya bisa kita lihat pada pajangan-pajangan dengan material keras yang tersusun rapih. Terdapat pula patung-patung dan miniatur-miniatur pembangunan yang dibuat untuk membantu kita dalam membayangkan bagaimana keadaan perbankan dari zaman sebelum kemerdekaan di Indonesia, mulai dari kependudukan Belanda, Mengenal Oktroi 1-8, Kependudukan Jepang, hingga masa yang sekarang.

Singkat cerita mengenai oktroi: Gagasan pembentukan bank memang sudah ada sejak lama, namun baru mulai diwujudkan ketika Raja Willem I menerbitkan Surat Kuasa yang berisikan wewenang kepada Pemerintah Hindia-Belanda untuk membentuk suatu bank berdasarkan wewenang khusus berjangka waktu atau lazim disebut Octroy (dalam tulisan sebenarnya). Oktroi menjadi ketentuan dan pedoman bagi De Javanesche Bank dalam menjalankan usahanya. Berbicara tentang Oktroi, ternyata lambangnya sungguh menarik, yaitu tameng berhiaskan pedang yang diapit oleh dua singa yang juga memegang pedang. Benar-benar cerminan made in luar negeri. Selain itu, nama Raja Willem ternyata terkenal di Jakarta, terbukti dari beberapa museum yang ada, nama raja itu selalu ditemukan, seperti di Balai Seni Rupa (Museum Seni dan Keramik), maklumlah ya, namanya juga Raja :D

Balik lagi ke isi museum, dari tulisan yang dipajang, kita bisa mengetahui bagaimana keadaan politik dan peperangan bisa sangat mempengaruhi stabilitas ekonomi. Disebutkan bahwa krisis moneter terjadi karena saham dan tukar menukar valuta asing berjalan dengan sangat tidak stabil, nilai mata uang Indonesia turun hingga Rp.16.500,-. Kebijakan pun akhirnya dikeluarkan pada tanggal 29 Mei 1993 dalam upaya menyelamatkan perekonomian Indonesia, tapi tentu dengan kekurangan dan kebaikan yang bisa terjadi. Hingar bingarnya kerusuhan akibat kemerosotan ekonomi tergambarkan pada dipan-dipan sepanjang langkah mengakhiri area sejarah uang di Indonesia.

Memasuki area bentuk-bentuk uang, kita akan melihat ribuan uang terpajang dalam kelompoknya masing-masing. Pada deretan mulai dari pintu masuk area, terdapat uang-uang berukuran kecil tapi dibuat dari emas asli dan logam-logam murni lainnya, sehingga nilai numerik uang ini sama dengan nilai intrinsiknya pada zaman tersebut. Kebanyakan dari uang-uang ini dipajang lengkap dengan loop atau kaca pembesarnya untuk memudahkan kita menganalisa. Bila kita detail memperhatikan setiap pajangan, kita akan menemukan uang lembaran dengan tulisan dalam 4 bahasa, yaitu Cina, Arab, Belanda dan Indonesia.

Pada sudut yang lain dalam ruangan, kita bisa melihat mata uang dari negara-negara lain di seluruh dunia dengan cara menarik rak-rak bening yang sudah tersusun rapih dengan pencahayaan yang memadai. Untuk diketahui, berfoto di dalam museum ini diizinkan, tapi tidak boleh menggunakan blitz pada area-area tertentu, termasuk dalam area ini karena uang kuno memiliki kerentanan tersendiri saat terkena cahaya blitz.

Puas memasuki area bentuk-bentuk uang, kita bisa duduk sejenak di atas bangku berbentuk uang logam token (tengahnya berlubang) yang cukup menampung beberapa orang saja. Setelah beristirahat, kita bisa melanjutkan perjalanan menuju ruang tempat penyimpanan emas, tapi emasnya hanya replika, hehe. Anyway, untuk kita yang mempunyai minat besar pada sejarah dan wawasan yang luas, bila merasa belum cukup puas dengan informasi yang dipajang, kita bisa menggali lebih dalam tentang informasi dari berbagai zaman beserta gambarnya dari setiap monitor komputer yang disediakan di berbagai tempat dalam museum ini. Penggunaan monitor ini mudah, ada yang berbentuk slide, ada pula yang berbentuk film. Menarik dan sangat bermanfaat.

Selain isi museum yang memang dirancang sebagai pusat informasi, bangunan ini juga mempunyai arsitektur berkelas. Disuatu lorong bisa kita temukan ukiran kaca sosok Hermes (salah satu dewa Yunani) yang juga akan kita temui patungnya di Museum Sejarah Jakarta (Fatahilah). Sepertinya dewa yang satu ini termasuk dewa favorit pada zaman itu, mungkin karena sosoknya merupakan simbol dari gairah dan kemenangan kali ya :D

Kedepannya dalam waktu dekat, Museum Bank Indonesia akan mengembangkan sistem audio pada setiap objek yang telah ditandai, sehingga kita bisa mendapatkan informasi dengan lebih seksama, seperti sedang dipandu oleh seorang guide. Memang, cyber museum kita yang satu ini betul-betul hebat dan terus maju. Pesannya, kemanapun kita pergi, terutama ke tempat-tempat bersejarah, tolong jaga kebersihan ya, jangan buang sampah sembarangan dan jangan corat-coret sembarangan. Jangan merusak yang bukan haknya dan jangan asal mencela yang tidak dimengerti. Oke, yuk kita rame-rame datang berkunjung ke museum!

Untuk dikenang bagi penulis:
Museum Bank Indonesia benar-benar nyaman untuk dikunjungi, informasinya lengkap dan penyajiannya tidak membuatku bosan. Aku senang karena selain sejarah bank dan perkembangan masalah uang di Indonesia, literatur lainnya seperti kejadian zaman perang dan tokoh-tokoh pahlawan daerah juga ada didalamnya. Keindahan museum ini tidak hanya terletak pada bangunannya yang terawat tapi juga pada detail mata uangnya. Beberapa desain yang telah diciptakan oleh DJB dan BI kiranya telah mencakup kebudayaan yang ada di Indonesia. Semoga kedepan, Museum Bank Indonesia dan Bank Indonesianya sendiri terus dipegang oleh tangan-tangan yang jujur dan memperhatikan masyarakat. Semoga tidak ada lagi masalah ekonomi yang demikian terpuruk menimpa lagi pada bangsa ini. Amin :D

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk yang membaca.
Salam hangat,
true.ewi@gmail.com

Tambahan Literatur:
Situs Resmi Bank Sentral Republik Indonesia.

Minggu, 17 April 2011

Brownies Coklat


April 2011
ewi’s Recipee :)
My Chocolate Brow-nies
Bahan:
Gula pasir 2 cangkir
Telur 4 butir
Tepung terigu 1,5 cangkir
Cokelat bubuk tiga perempat cangkir
Susu bubuk putih setengah cangkir
Vanili seperempat sendok teh
Garam seperempat sendok teh
Minyak goreng 1 cangkir

Pelengkap:
Keju batangan ukuran kecil

Brow-nies fresh from thw oven
Cara membuat:
1.       Campur gula pasir dan telur dalam wadah, kocok mixer dengan kecepatan tinggi hingga rata dan mengembang (kira-kira lah)
2.       Turunkan kecepatan terendah dan masukan tepung terigu, cokelat bubuk, susu bubuk, vanili, dan garam hingga semuanya teraduk rata. Bisa dicicipi sedikit, bila ada yang kurang rasanya, bisa ditambahkan saat itu
3.       Matikan mixer, masukan minyak goreng, lalu aduk dengan kaki mixer atau spatula plastik yang buat kue itu (lupa apa namanya) hingga rata
4.       Masukan potongan keju berbentuk dadu (sesuai selera), aduk kembali
5.       Masukan ke loyang yang sudah dilumuri minyak goreng dan ditabur tepung
6.       Panggang di oven suhu 180 derajat selama 40 menit (pada 20 menit pertama, keluarkan loyang dari oven, beri taburan keju dan bahan lainnya-anything you like- ke atas adonan yang baru setengah matang, lalu masukan lagi ke dalam oven)
7.       Cek kematangan brownies dengan tusuk gigi, tunggu dingin sebentar, potong-potong, lalu siap disajikan :)

Tips dan trik tambahan:
  1. Keju bisa dihilangkan atau digantikan dengan bahan lain sesuai selera. Bila ingin lebih manis, bisa memakai taburan meises atau choco chips.
  2. Pilih bahan-bahan yang mutunya baik, cokelat bubuk dan susu bubuk yang rasanya enak.
  3. Usahakan untuk tidak memakai telur yang sudah masuk kulkas. Bilapun terlanjur, biarkan telur selama beberapa saat hingga rasa dinginnya hilang.
  4. Jangan memasukan taburan sejak awal memanggang karena bisa membuat taburan tersebut gosong.
  5. Cek brownies di dalam oven dengan menggunakan senter, bila matangnya tidak merata, 20 menit pertaman saat memberikan taburan, putar posisi loyang sehingga matangnya bisa merata.

Brow-nies and co-o-kies
Untuk dikenang penulis:
Resepnya didapat turun-menurun dari kakak perempuan sewaktu dulu. Bisa divariasikan menjadi brownies putih dengan memanfaatkan coklat putih dan keju. Aku pernah menjualnya dengan harga sangat murah saat acara sekolah dan kakakku marah-marah karenanya, sejak itu aku tahu bahwa brownies home made ini harganya mahal, hehe,. Kualitas menentukan harga lah :)

Salam hangat,
true.ewi@gmail.com

Pie buah


April 2011
ewi’s Recipee :)
My fruit Pi-e

Bahan Kulit:
Terigu 225 gram
Gula halus 50 gram
Mentega 125 gram
Kuning telur 2 butir
Air es 2 sendok makan
Garam seperempat sendok teh

Bahan Vla:
Susu cair 200 ml
Tepung maizena 3 sendok makan
Gula pasir 75 gram
Essence vanila 1 sendok teh

Bahan Isi:
Pakai potongan buah apa saja bolee, yang penting enak :)

Bahan Penutup:
Agar-agar putih seperempat bungkus
Gula pasir 1 sendok makan
Air 100ml


Fruit Pi-e dan Agar-agar buah
Cara membuat:
1.       Takar semua bahan kulit lalu masukkan semuanya ke dalam wadah (mangkok besar)
2.       Aduk rata pakai sendok kayu hingga rata dan bisa dibentuk
3.       Cetak sesuai bentuk yang diinginkan (disarankan memakai cetakan pie agar lebih tipis namun cantik dan tidak rapuh)
4.       Panggang di oven suhu 170 derajat selama 25-30 menit
5.       Sementara menunggu kulit matang, buat vla dengan mencampur semua bahan jadi 1 di dalam panci, nyalakan api kecil, masak hingga mendidih sambil terus diaduk (ga sampai 5 menit kok)
6.       Setelah vla jadi, kita bisa memasak agar-agar sesuai selera
7.       Setelah kulit matang, masukan vla sedikit-sedikit ke dalam kulit yang sudah dicetak seperti wadah, lalu beri potongan buah di atas vla, kemudian tutupi semua isi yang ada dalam wadah kulit dengan agar-agar yang sudah matang (masih cair)
8.       Diamkan sebentar hingga agar membeku atau bisa dimasukan ke dalam kulkas beberapa menit
9.       Tadaaa,. Selamat menikmati :)

Tips dan trik tambahan:
  1. Membuat kulitnya bisa divariasikan sesuai selera, bila ingin kulit tebal, maka buatlah lebih tebal dan dipanggang sedikit lebih lama. Bila ingin kulit yang bisa menampung isi (vla, buah dan agar) dalam porsi besar, maka buatlah kulit yang lebih tinggi/lebar.
  2. Bila sulit mengaduk dengan sendok kayu, pakai tangan yang sudah dicuci bersih saja, lebih praktis.
  3. Aku mengganti vanila essence dengan vanili, hehe,. Soalnya aku ga punya vanila essence. Ternyata tidak banyak pengaruh pada rasa. Enak-enak saja.
  4. Untuk kulit yang lebih lembut, bisa juga mengganti atau tambahkan sedikit butter atau bisa juga menggunakan pengembang kue.
  5. Vla, buah dan agar-agar saling berhubungan. Bila ingin vla manis, maka lebih baik buah atau agar-agarnya tidak terlalu manis. Untuk kemudahan, buatlah val seperti biasa kita membuat vla untuk pelengkap puding namun tidak terlalu encer. Untuk buah, kita bisa memakai fruit cocktail. Dan untuk agar-agar, buatlah seperti biasa kita membuat agar-agar untuk 1 porsi biasa (1 bungkus).
  6. Sisa dari fruit cocktail dan agar-agar bisa dicampur jadi satu dalam loyang agar-agar dan dimasukan ke dalam kulkas, bisa dimakan sebagai hidangan kedua :)
  7. Fruit pi-e bisa tahan cukup lama (3 hari), cukup masukan saja ke dalam kulkas bila ingin tetap segar. Hanya mungkin nanti agar-agarnya terlihat agak pecah.

                                                      Untuk dikenang penulis:
Sempat mencoba 2 resep pi-e dari sumber yang berbeda, bahan dasarnya sama saja, caranya juga sama. Awalnya terlihat ribet, namun bila sudah biasa, bisa selesai cepat dan memuaskan. Enak :)

Salam hangat,
True.ewi@gmail.com

Biskuit Coklat


April 2011
ewi’s Recipee :) 
My chocolate Co-o-kies

Bahan:
Mentega 100 gram
Gula halus 100 gram
Kuning telur 2 butir
Tepung terigu 165 gram
Cokelat bubuk 35 gram

Cara membuat:
1.       Takar semua bahan lalu masukkan semuanya ke dalam wadah (mangkok besar)
2.       Aduk rata pakai sendok kayu hingga rata dan bisa dibentuk
3.       Cetak sesuai bentuk yang diinginkan
4.       Beri taburan sesuai selera (choco chips, butiran gula warna-warni, anything you like)
5.       Tata di atas loyang yang sudah dilumuri minyak goreng dan ditabur tepung
6.       Panggang di oven suhu 160-180 derajat selama 25-35 menit
7.       Siap disajikan :)

Taburan bisa bervariatif
Tips dan trik tambahan:
  1. Semua bahan bisa dikreasikan sesuai selera, bila ingin lebih gurih, ganti beberapa sendok makan tepung terigu dengan susu bubuk putih. Tambahkan garam dan vanili sedikit (seperempat sendok teh).
  2. Bila ingin cookies menjadi lebih lembut, ganti atau tambahkan sedikit butter atau bisa juga menggunakan pengembang kue, atau tambah lagi takaran menteganya sedikit.
  3. Bila ingin rasa coklatnya lebih terasa, kurangi sedikit tepung terigunya, tambahkan sediki coklat bubuknya. Disarankan menggunakan gula halus, namun bila ingin sedikit sensasi, silahkan ganti sedikit gula halus dengan sedikit gula biasa.
  4. Bila sulit mengaduk dengan sendok kayu, pakai tangan yang sudah dicuci bersih saja, lebih praktis.
  5. Pakai cetakan yang praktis-praktis aja biar ga kelamaan dan membuat kita ga stress.
  6.  Taburan yang dipakai, semakin berwarna-warni, semakin menarik perhatian, terutama buat anak-anak.
  7. Cek tingkat kematangan cookies dengan menggunakan tusuk gigi, bila masih empuk, panggang lagi sebentar. Bisa juga dimasukan ke freezer bila ingin lebih dingin dan keras.

choco co-o-kies with choco chips
Untuk dikenang penulis:
Waktu pulang kerja di atas bus, seperti biasa ada tukang jualan buku masak sedang berpromosi dengan menaruh buku-buku di kursi penumpang. Iseng, aku buka tepat di halaman resep cookies, tak berlama, aku foto resepnya dengan kamera handphone dan kini resep tersebut aku kembangkan sendiri. Keisengan menuai sukses! Selamat mencoba :)



Salam hangat,
true.ewi@gmail.com